1.
Teori Atribusi
Teori atribusi membahas bagaimana seseorang menyusun suatu penjelasan
berangkat dari kata tanya "mengapa" (Kelley,2003). Teori ini
berkembang dalam psikologi sosial terutama sebagai senjata yang digunakan dalam
menjawab berbagai permasalahan terkait dengan persepsi sosial. Misalnya, jika
seorang berlaku agresif, apakah hal ini berarti ia seorang yang agresif
(karakteristik individu) ataukah karena situasi yang mengharuskan ia berbuat
demikian (situasional)? Tentu saja atribusi sangat berhubungan dengan
informasi-informasi yang memang digunakan dalam menarik kesimpulan.
Teori atribusi yang dikemukakan oleh Heider (1958) merupakan metode
yang digunakan untuk mengevaluasi bagaimana orang mempersepsi perilakunya
maupun perilaku orang lain. Teori atribuasi akan memberikan penjelasan mengenai
penyebab perilaku tersebut.
2. Teori Penetrasi Sosial
Altman dan Taylor mengemukakan inti teori ini dalam hubungan antar
pribadi selalu ada penyusupan sosial. Ketika kita baru berkenalan dengan
seseorang kita mulai dengan suatu suasana yang tidak akrab, namun setelah
proses hubungan terus berlanjut maka situasi hubungan mulai berubah menjadi
lebih akrab. Akibatnya setiap orang menghitung keuntungan dan kerugiaan yang
bisa diterima akibat hubungan tersebut. Kesimpulannya hubungan antarpribadi
selalu melalui suatu proses yang berubah terus menerus.
3. Teori Pandangan Proses
Teori ini beranggapan hubungan antarpribadi seseorang dapat diramalkan
melalui pengetahuan dan keadaan pribadi komunikasi yang dapat menjelaskan
tentang kualitas dan kemurnian hubungan antarpribadi yang terjadi antara kedua
belah pihak. Dengan proses peramalan yang dilakukan antara komunikator dengan
komunikan maka secara tidak langsung hubungan antarpribadi tersebut dapat
diperkirakan keaslian maupun kepalsuannya. Pada titik tertentu ternyata teori
ini dapat berfungsi sebagai pelengkap dari teori-teori sebelumnya.
4. Teori Perspektif Pertukaran
Teori ini beranggapan bahwa seseorang berhubungan dengan orang lain
karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Pada pendekatan
obyektif cenderung menganggap manusia yang mereka amati sebagai pasif dan
perubahannya disebabkan kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka.
Pendekatan ini juga berpendapat, hingga derajat tertentu perilaku manusia dapat
diramalkan, meskipun ramalan tersebut tidak setepat ramalan perilaku alam.
Dengan kata lain, hukum-hukum yang berlaku pada perilaku manusia bersifat
mungkin (probabilistik). Misalnya, kalau mahasiswa lebih rajin belajar, mereka
(mungkin) akan mendapatkan nilai lebih baik; kalau kita ramah kepada orang
lain, orang lain (mungkin) akan ramah kepada kita; bila suami isteri sering
bertengkar, mereka (mungkin) akan bercerai.
http://abdulsalamserbakomunikasi.blogspot.com/2010/02/teori-teori-komunikasi-antar-persona.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar